3 Mitos Bulan Safar, Benarkah Membawa Kesialan?
mitos bulan safar

Date

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Daftar Isi

mitos bulan safar

Bulan Safar 1448 H telah tiba. Selain jadi bulan kedua dalam kalender Hijriah, bulan ini identik dengan mitos yang beredar dan populer di tengah masyarakat. Simak penjelasan tentang sejumlah mitos bulan Safar yang dapat diambil hikmahnya bagi umat Islam untuk semakin memperkuat keimanan.

Sejarah Bulan Safar

mitos bulan safar

Sebelum mengetahui mitos bulan Safar, penting untuk mengetahui sejarah bulan ini. Secara penamaan, Safar berasal dari bahasa Arab Shafar yang berarti kosong dan Shufrah yang berarti kuning.

Melansir laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), bulan ini dinamakan Safar karena erat kaitannya dengan kebiasaan masyarakat Arab zaman dulu yang suka meninggalkan rumah sehingga menjadi kosong untuk bepergian jauh atau berperang.

Baca Juga: 3 Keutamaan Bulan Safar dalam Islam, Momen Perkuat Keimanan

Mitos Bulan Safar

mitos bulan safar

Mitos bulan Safar yang berkembang di masyarakat sejak dulu sebenarnya berawal dari sejarah kepercayaan masyarakat Arab Jahiliyah. Pada masa itu, masyarakat Arab jahiliyah menganggap bulan Safar penuh dengan kesialan dan jadi penyakit yang bersarang di perut. Namun, Rasulullah SAW membantah kepercayaan itu dan menegaskan bahwa semua penyakit terjadi karena adanya izin Allah SWT. Berikut ini sejumlah mitos yang berkembang di masyarakat terkait bulan Safar.

Baca Juga: Doa dan Amalan Pembuka Pintu Rezeki, Bisa Diamalkan Secara Rutin

Bulan Penuh Kesialan

Mitos yang paling populer di bulan Safar adalah anggapan bahwa bulan ini membawa kesialan, musibah, dan penyakit. Dalam Islam, anggapan tersebut tidak benar dan dilarang. Rasulullah SAW SAW menegaskan bahwa tidak ada kesialan pada waktu tertentu dan semua bulan adalah baik.

Larangan Menikah

Mitos bulan Safar selanjutnya adalah larangan menikah. Akibat mitos ini, sebagian masyarakat takut menggelar acara pernikahan di bulan Safar.

Menurut pandangan ulama, Islam tidak melarang menikah di bulan Safar. Sebaliknya, menunda pernikahan karena takut sial justru dapat mendatangkan kerugian.

Baca Juga: 5 Amalan Bulan Safar yang Bisa Dikerjakan Umat Islam, Tingkatkan Keimanan kepada Allah SWT

Larangan Bepergian

mitos bulan safar

Masyarakat Arab jahiliyah juga mempercayai keyakinan keliru tentang larangan bepergian di bulan Safar karena bisa membawa kesialan.

Dalam ajaran Islam, anggapan ini tidak memiliki dasar. Umat Islam boleh melakukan perjalanan, menikah, atau memulai usaha kapan saja karena semua ketetapan baik dan buruk berasal dari Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 79 yang artinya:

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa: 79)

Dengan demikian, bulan Safar bukan bulan sial. Tidak ada larangan dalam Islam untuk menikah, bepergian, atau memulai usaha pada bulan ini. Semua bentuk usaha boleh dilakukan kapan saja selama tidak bertentangan dengan syariat. Semoga dengan penjelasan mitos bulan Safar ini, bisa menjadi motivasi untuk kita untuk terus memperkuat tauhid dan keimanan kita kepada Allah SWT. Aamiin.

More
articles

Scroll to Top