Farhan adalah satu dari ribuan anak yatim yang kehilangan figur ayahnya sejak kecil. Di usia 6 tahun, ia sudah harus menghadapi kenyataan pahit ditinggalkan oleh sosok ayahnya karena kanker paru-paru yang dideritanya.
“Kangen sama bapak. Iri lihat orang lain karena punya bapak.” Itu yang dirasakan Farhan.
Tak ada tulang punggung keluarga, Ibu Nining terpaksa banting tulang menjadi buruh cuci dengan penghasilan yang tak seberapa. Namun karena penyakit diabetes dan luka yang timbul, ia tidak lagi bisa bekerja menjadi buruh cuci sehingga tak lagi ada pemasukan.
“Kangen sama bapak, kalau ada dia kan saya gak pusing mikirin sekolah Farhan. Karena ada yang kerja.” Cerita Ibu Nining dengan mata sendu. Ditambah lagi, ia juga baru saja berduka lantaran kehilangan nenek dan bibinya Farhan yang meninggal beberapa waktu lalu.
Setelah 7 tahun ditinggal sosok ayah, kini pandemi tambah menyesakkan kondisi Farhan. Sistem belajar yang mengharuskan daring, membuat Farhan harus memiliki smartphone. Sedangkan, biaya hidup dan tempat tinggal saja, ia harus tinggal berkumpul bersama 4 Kepala Keluarga lainnya.
Mimpinya sederhana: Farhan cuma butuh smartphone agar bisa kembali bersekolah. Sehingga Farhan bisa sekolah dan belajar daring seperti anak lainnya.
Alhasil, kini Farhan hanya bisa ikut mengaji saja. Setidaknya, jika tidak sekolah minimal Farhan harus ikut mengaji. Tak ingin berharap lebih, Farhan hanya ingin memiliki smartphone agar bisa lanjutkan sekolah seperti teman-teman lainnya.
Meski dari nampak wajahnya terlihat tegar, Farhan tetaplah anak yatim yang harus diperhatikan. Apalagi ia masih harus tinggal di rumah dengan panjang 5×10 meter. Dihuni oleh 4 Kepala Keluarga dengan total 8 orang, termasuk Farhan dan ibunya.

Nampak dari luar dan dalam, terlihat bahwa rumah yang ia tinggali memang tidak layak huni. Dengan atap yang bocor dan alas rumah yang hanya berbalut semen kasar, serta dinding yang banyak ditambal dengan kayu bekas. Hal ini membuat ruangan terasa dingin, pengap, gelap dan terlihat kumuh. Tidak seperti kebanyakan rumah yang mana cahaya masuk lewat ventilasi, yang ada cahaya yang masuk justru mengandalkan lewat atap dinding yang bolong. Meski demikian, itu menjadi satu-satunya Farhan dan keluarganya bernaung.
Farhan dengan segala keterbatasannya masih berharap segala mimpi bisa terwujud. Ia hanya ingin bisa memiliki smartphone agar bisa belajar daring seperti teman-teman lainnya.
Sahabat, mari bantu Farhan agar bisa bersekolah kembali! Tunjukkan kepada Farhan bahwa masih banyak orang baik di sekitarnya.
——-
Di Jumat berkah ini, UCare Indonesia mengajak sahabat untuk mendukung acara Semarak Yatim Bahagia 1443 H bersama 300 Anak Yatim di Kota Bekasi. Sedekah yatim langsung klik di sini: https://shor.by/SemarakYatimBahagia
Atau dapat langsung sedekah online ke nomer rekening:
BSI (BSM) 7100 3000 14
BSI (BNI Sya) 068 566 4701
Mandiri 167 000 2432 085
BCA 066 327 1960
Bank Muamalat 3050 7000 73
A.n Yayasan Ukhuwah Care Indonesia
BRI 1623 01 000 032 307
A.n UCare Indonesia
Konfirmasi transfer melalui:
Telp. (021) 8896 0316
Hotline. +62 8222 3339 773




