
Peringatan Hari Anak Nasional 2026 masih menyisakan pilu bagi bangsa Indonesia. Sebanyak 3 juta lebih anak Indonesia tidak sekolah menjadi ironi di tengah gaung pentingnya pemenuhan hak-hak anak, termasuki pendidikan. Lantas apa dampak dari tidak sekolah bagi masa depan anak-anak?
Kemendikdasmen RI Ungkap Data Anak Tidak Sekolah


Hari Anak Nasional diperingati setiap tahunnya untuk meningkatkan kesadaran pentingnya pemenuhan hak-hak anak untuk mendapatkan perlindungan, pendidikan, hingga tumbuh dan berkembang secara optimal. Sayangnya, kondisi saat ini terungkap bahwa masih banyak anak-anak yang belum terpenuhi haknya.
Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen RI), mengungkap bahwa per 1 April 2026, jumlah anak tidak sekolah (ATS) mencapai 3.966.858 dan belum pernah bersekolah (BPB) sebanyak 1.913.633. Selain itu, terdapat 986.755 anak putus sekolah (drop out), dan sebanyak 1.066.470 anak lulus tapi tidak melanjutkan sekolah (LTM).
Baca Juga: Hari Anak Nasional 2026: Sejarah dan Tema Peringatannya
Dampak Anak Tidak Sekolah


Hari Anak Nasional 2026 menjadi sebuah refleksi atas pemenuhan hak, tumbuh kembang, serta masa depan anak bangsa. Di Indonesia, ternyata ini semua masih menjadi tantangan bagi semua pihak.
Tentunya, sekolah menjadi salah satu cara agar anak bisa tumbuh dengan kualitas terbaik di masa depan. Lantas, apa dampak negatif jika anak tidak sekolah dan putus sekolah?
Memicu Rasa Minder
Tidak sekolah dan putus sekolah dapat menyebabkan anak dapat merasa minder atau rendah diri. Rasa kecewa akibat putus sekolah ini bisa memancing perasaan yang menganggap kalau dirinya kalah dibandingkan teman-teman sebayanya. Hal ini bisa makin parah jika si anak melihat teman-temannya banyak prestasi di sekolah.
Baca Juga: Wisuda Beasiswa SEMASA 2026: Apresiasi Pencapaian Belajar Peserta Didik Dhuafa
Meningkatkan Risiko Kenakalan
Sebuah penelitian dalam International Journal of Educational Development pada 2010 lalu mengungkap bahwa putus sekolah berdampak buruk bagi masa depan anak, salah satunya meningkatkan risiko kenakalan. Mulai dari penggunaan narkoba dan alkohol, hingga kehamilan remaja di luar nikah.
Baca Juga: BIDIK UCare Indonesia untuk Ibrahim: Bukti ZIS Penuhi Kebutuhan Mendesak bagi Dhuafa
Rendahnya Kualitas SDM


Mengutip laman Universitas Brawijaya, tanpa pendidikan yang layak, generasi muda akan tumbuh dengan keterampilan yang terbatas dan tidak siap menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompleks.
Hal ini dapat menyebabkan stagnasi ekonomi dan keterbelakangan dalam jangka panjang. Ini juga menjadi catatan tersendiri dalam peringatan Hari Anak Nasional 2026.
Baca Juga: Pembinaan Beasiswa Pionir 2026: Mengasah Kreativitas dalam Tebarkan Kebaikan
Meningkatkan Kemiskinan Struktural
Pendidikan dan sekolah adalah salah satu jalan keluar dari kemiskinan. Ketika anak-anak kehilangan akses terhadap pendidikan, mereka kehilangan alat paling ampuh untuk memperbaiki nasib.
Mereka cenderung tetap berada di kelas pekerja berupah rendah, yang berarti kemungkinan besar anak-anak mereka kelak juga akan menghadapi nasib yang sama. Inilah yang disebut sebagai kemiskinan struktural—kemiskinan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
UCare Indonesia Dukung Kelangsungan Pendidikan Dhuafa


Dengan tingginya angka anak tidak sekolah dan putus sekolah, UCare Indonesia berupaya hadir untuk mendukung akses pendidikan yang layak dan setara bagi anak-anak, khususnya yatim dan dhuafa.
UCare Indonesia menghadirkan berbagai program pendidikan yang tujuannya menciptakan insan yang cerdas dan berkarakter. Mulai dari Bantuan Biaya Pendidikan (BIDIK), Beasiswa Pionir, Beasiswa SEMASA, dan TK Ukhuwah yang difokuskan untuk anak usia dini. Program-program ini dapat terwujud berkat kebaikan para insan dermawan yang telah menitipkan zakat, infak, sedekah, dan donasinya melalui UCare Indonesia.
Demikian penjelasan mengenai dampak negatif anak tidak sekolah bagi masa depannya, baik itu secara psikologi, sosial, dan ekonomi. Semoga ini dapat menjadi refleksi pada peringatan Hari Anak Nasional 2026.






