Namanya Pak Sobah, salah satu penyintas erupsi Semeru 2021. Sehari-harinya beliau berjualan nasi bungkus. Sebelum pandemi, ia sempat kerja di hotel, namun karena menjadi salah satu korban PHK, ia pun memilih untuk bantu-bantu orang tua sambil berjualan nasi bungkus. Setelah sholat Isya dia berangkat. Kadang juga berjualan dari Subuh. Mengandalkan sepeda motornya, ia berkeliling tempat tinggal untuk menjajakan dagangannya.

Pak Sobah merupakan salah satu penyintas Semeru yang berasal dari Desa Sumberwuluh, Candipuro, Kabupaten Lumajang. Letak rumahnya persis di belakang Balai Desa Sumberwuluh. Dimana lokasi tersebut merupakan salah satu wilayah yang sangat terdampak erupsi Semeru. Penuh abu dan debu pasca erupsi terjadi.
Ia menceritakan, pada saat sebelum kejadian pukul 15.50 WIB dia mendatkan informasi dari kakaknya bahwa Gunung Semeru akan erupsi. Ternyata, pukul 15.55 WIB mulai keluar abu vulkanik. Di saat situasi darurat juga tiba-tiba mati listrik, diikuti dengan telpon dan sinyal yang hilang. Karena, tidak ada yang bisa dihubungi Pak Sobah jadi serba bingung harus berbuat apa.
“Kebetulan kerabat saya, ibu mertua berjualan di Jembatan Gladak Perak (Lumajang). Karena, panik saya maksain keluar buat jemput ibu. Gak taunya kondisi untuk ke sana banjir. Akhirnya saya balik lagi ke rumah.” Ceritanya seakan membayangkan kondisi pada saat kejadian.


Pukul 16.00 WIB, langit di sekitar lokasi mulai sedikit terang. Namun kondisinya masih cukup panas. Ia menceritakan bahwa saat itu, kakaknya sudah turun dari Jembatan Gladak Perak. Ia mendapat kabar bahwa ibunya sudah pulang. Akhirnya setelah dicari-cari, ditemukanlah ibunya dengan jarak 500 meter dari warung. Sayangnya, kondisi sang ibu sudah melepuh dari ujung kepala sampai ujung kaki terkena uap panas larva. Dengan kondisi yang darurat tersebut dirujuklah ke rumah sakit terdekat. Qadarullah, esoknya pasca operasi dan sudah siuman beliau harus menghembuskan nafas terakhirnya.
Pak Sobah kembali melanjutkan, “Kemungkinan waktu itu, mba Siti dan ibu mau menghindari dari larva tadi. Rupanya aliran larva lewat di samping itu. Bahkan uapnya saja panas sekali,”
“Setelah evakuasi ibu, kemudian evakuasi keluarga. Akhirnya terpaksa pulang untuk memastikan. Dan pergi ke pengungsian bersama 7 KK ke Balai Desa Candipuro.” Lanjutnya.


Mendengar cerita dari Pak Sobah tentu banyak sekali duka dan kepedihan yang dirasakan saudara-saudara kita. Kebutuhan logistik masih sangat dibutuhkan untuk menujang hidup selama hari-hari ke depan.
Sahabat, saat ini kebutuhan untuk dapur darurat di Semeru masih sangat dibutuhkan. UCare Indonesia mengajak sahabat yang ingin berdonasi dapat disalurkan dengan mudah melalui:
https://bantusesama.or.id/dapurdaruratsemeru
Mandiri 167 000 2432 085
BSI 685 664 7010
BCA 066 327 1960
A.n Yayasan Ukhuwah Care Indonesia
Informasi dan konfirmasi melalui:
Telp. (021) 8896 0316
Hotline. +62 8222 3339 773
Informasi lengkap dan sapa kami melalui:
Instagram : @lazucare
FB : UCare Indonesia
Twitter : @ucareindonesia
You Tube : LAZ UCare
Telegram : https://t.me/UCareIndonesia
Website : https://www.ucareindonesia.org
Website Donasi : https://donasi.ucareindonesia.org/
Email : sapakami@ucareindonesia.org




