Banjir, Merenungi Musibah atau Bermuhasabah

Banjir, Merenungi Musibah atau Bermuhasabah

Di tahun baru, masyarakat biasanya ingin berlibur atau berkegiatan bersama keluarganya. Kita tidak pernah mengira di tanggal 1 2020 itu akan terjadi banjir.

Banjir yang datang tidak hanya satu daerah saja tetapi juga di Jabodetabek, Karawang, Banten.

Sebanyak 511.471 jiwa terdampak banjir terdiri dari 10 kota dan tiga kabupaten. Dengan jumlah pengungsi mencapai 19.792 jiwa, yang paling banyak berada di kabupaten Bogor dengan jumlah 14.000 jiwa.

Daerah permukiman yang terletak di dataran rendah yang berpeluang banjir. Sebenarnya kerugian akibat banjir bisa dihindari apabila dataran banjir tersebut ditinggalkan atau tidak dihuni.

Hanya saja, sejak dahulu manusia memang senang tinggal di dekat perairan karena mudah mendapatkan air, menggunakannya untuk sarana irigasi dan transportasi, bahkan untuk tempat berdagang.

Yang perlu disikapi dalam bencana ini adalah bukan hanya merenungi tetapi juga bermuhasabah (evaluasi diri).

Dalam Al Quran Allah memperingatkan kita apabila merusak dataran dan laut akan terjadi bencana.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(QS. Ar-rum: 41).

Imam Jalaludin dalam Tafsir Jalalain menjelaskan lafal بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ (karena perbuatan tangan manusia) dengan arti مِنَ الْمَعَاصِى, yang berarti “karena maksiat”.

Kemaksiatan di sini tidak hanya terkait halal dan haram saja, juga berkaitan perilaku dan perbuatan masyarakat di lingkungannya.

Tanah longsor terjadi bisa jadi sebab adanya penebangan pohon secara brutal. Banjir datang karena dipicu perilaku buang sampah sembarangan, sungai-sungai menyempit karena bangunan pemukiman, area resapan air berkurang drastis akibat kian meluasnya aspal dan beton, dan lain sebagainya.

“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Allah akan memberikan musibah/cobaan” (HR Bukhari).  

Segala musibah yang menimpa menjadi alat untuk berdzikir dan muhasabah diri, sehingga manusia dapat mengambil sisi positif terutama dalam meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala.

Selain dari kebaikan-kebaikan yang bersifat relatif, kesabaran dalam menerima musibah adalah cara Allah menghapuskan dosa-dosa.  

مَايُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ وَلَاوَصَبٍ وَلَاهَمٍّ وَلَاحُزْنٍ حَتَّى الشَّوْكَةَ يُشَاقُّهَا اِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ رواه البخاري

  “Tidak ada yang menimpa seorang mukmin dari kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, hingga duri yang menusuk tubuhnya, kecuali Allah menghapus kesalahan-kesalahannya” (HR. Bukhari).

Scroll Up
×

Assalamualaikum,

Selamat datang di ucareindonesia.org. Silahkan klik icon customer service kami (U Care Admin) untuk memulai percakapan via WhatsApp chat

× Assalamualaikum, ada yang dapat kami bantu ?