Jangan Ngaku Cinta Rosul Jika Tidak Santuni Anak Yatim

Date

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. (HR. Bukhori).

Dari hadist tersebut kedudukan anak yatim dan Rasulullah SAW di syurga itu diibaratkan jari telunjuk dan jari tengah.

Yang dimaksud menanggung anak yatim di hadist adalah mengurusi dan memerhatikan semua keperluan hidupnya, seperti nafkah (makan dan minum), pakaian, mengasuh dan mendidiknya dengan pendidikan Islam yang benar.

Sehingga untuk mendapat kedudukan dekat dengan Rasulullah SAW di syurga, bukan hanya sekedar sedekah saja. Namun, juga mengurusi semua keperluan anak-anak yatim hingga mendapatkan pendidikan Islam yang benar.

Sehingga bisa diambil kesimpulan, inti dari mengasuh anak yatim adalah menghadirkan atau menjadi figur orangtua bagi si anak. Kedudukan orang yang mengasuh anak yatim sangat mulia di sisi Allah, karena ia rela memberi makan, memberi pakaian, merawat, membesarkan, dan memberi pendidikan kepada anak orang lain. Kewajiban itu bukan hanya berlaku untuk anak yatim yang miskin, juga berlaku untuk anak yatim yang kaya.

Menanggungnya dengan cara mengelola hartanya. Harta anak yatim yang kaya ini tidak boleh dibiarkan saja. Jika mengetahui anak yatim punya harta, maka kita wajib mengembangkannya, jangan sampai harta anak yatim habis terkena zakat.

Jika tidak dikelola dengan baik, anak yatim yang awalnya berkecukupan menjadi kekurangan. Jika penanggung harta anak yatim orang tidak mampu, maka boleh mengambil upah dari harta tersebut, sebatas kebutuhannya dan tidak berlebihan.

 Jika penanggung orang yang berkecukupan, hendaknya menahan diri dari memakan harta anak yatim. Ketika anak yatim sudah dirasa mampu mengelola hartanya sendiri, maka si penanggung wajib mengembalikan kepada anak yatim.

وَابْتَلُوا الْيَتَامَىٰ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ ۖ وَلَا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَنْ يَكْبَرُوا ۚ وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ ۖ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا

“Dan ujilah anak-anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk menikah. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka hartanya. Dan janganlah kamu memakannya (harta anak yatim) melebihi batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (menyerahkannya) sebelum mereka dewasa. Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah dia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa miskin, maka bolehlah dia makan harta itu menurut cara yang patut. Kemudian, apabila kamu menyerahkan harta itu kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksisaksi. Dan cukuplah Allah sebagai pengawas.” (QS. An-Nisa: 6)

Sebagaimana ayat di atas, batas menanggung anak yatim tidak berhenti ketika anak yatim sudah mencapai usia baligh, tetapi sampai anak yatim ini cerdas (pandai memelihara harta). Jadi menanggung anak yatim tidak berhenti saat baligh.

Seorang muslim wajib peduli terhadap saudaranya. Peduli artinya tidak hanya menerima aduan, tetapi juga aktif mencari, memperhatikan dan tidak menunggu orang lain mengabarkan kepadanya. Menyantuni anak yatim adalah bagian dari menanggung anak yatim.

Jika kita tidak mampu menanggung anak yatim kita bisa memperoleh kebaikan dengan cara menyantuninya. Misalnya kita hanya mampu menanggung sebulan maka kita bantu mencarikan pengganti siapa yang akan menanggung di bulan berikutnya dan seterusnya.

Keutamaan menanggung anak yatim berlaku bagi orang yang menanggung anak yatim dari hartanya sendiri, atau harta anak yatim tersebut, jika orang itu benar-benar mendapat kepercayaan untuk menanggung harta anak yatim.

Demikian pula, keutamaan ini berlaku bagi orang yang menanggung anak yatim yang punya hubungan keluarga dengannya, atau anak yatim yang sama sekali tidak punya hubungan keluarga dengannya.

Ukhuwah Care Indonesia mengajak masyarakat untuk menjadi Abi yatim.

ABI Yatim atau Anak Binaan Yatim adalah program orang tua asuh anak bagi yatim untuk membantu biaya sekolah serta berbagai kebutuhan lainnya. Program ini di monitor dan dilaporkan secara berkala kepada orang tua asuhnya.

Setiap penerima manfaat akan mendapatkan bantuan sebesar Rp 450.000,- per bulan.

Di Ukhuwah Care ada anak-anak yatim yang membutuhkan uluran tangan. Pertama, Nasila Sahla Zakiya.

Nabila berumur 9 tahun. Bercita-cita ingin menjadi hafizah. Kini ia duduk di IV SD Islam Al Izah, juga ingin menjadi seorang koki profesional.

Kedua, bernama Nabila Muazara Zaidah. Anak ini sangat kreatif. Senang sekali melukis dan membuat kerajinan tangan. Ia duduk di kelas IV SD SALSABILA, umur 9 tahun.

BSM 7100 3000 14
Mandiri 167 000 2432 085
BNI Syariah 068 566 4701
BCA 066 327 1960
BRI 1623 01 000 032 307
A.n yayasan ukhuwah care indonesia
Telp. (021) 8896 0316
Hotline. 0811 9236 811
Email. [email protected]
www.https://www.ucareindonesia.org

More
articles