Pemberdayaan Ekonomi dengan Zakat

Date

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Zakat masih dianggap kurang penting di Indonesia ketimbang pajak. Padahal pemberdayaan ekonomi bisa lebih luas dengan zakat.

Potensi Zakat di Indonesia mencapai 252 Triliun pada tahun 2019 hampir sama dengan pendapatan non pajak di Indonesia yang mencapai 349,2 T, pada outlook pendapatan negara 2018. Memang pendapatan pajak kita 1.548,5 tapi belanja negara sangat besar bisa mencapai 1.454 T hanya untuk infrastruktur. Itu belum termasuk transfer dana desa dan membayar utang negara yang mencapai 325 T.

Itu baru potensi zakat penghasilan, belum perolehan zakat yang lain. Ini artinya dengan masih banyak potensi zakat yang bisa dimaksimalkan untuk pemberdayaan ekonomi di Indonesia.

Apalagi dalam amanat Undang-undang adalah untuk mengentaskan kemiskinan. Dengan zakat masalah kemiskinan, pengangguran bisa teratasi dengan mudah bila penggunaan dana tersebut dikelola dan dimaksimalkan dengan baik potensinya.

Sejak zaman Rasulullah, dengan penggalian dan pengelolaan zakat secara optimal, perekonomian di dalam negara menjadi stabil. Sepeninggalnya Rasulullah SAW, para sahabat seperti Abu Bakar bin Siddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib terus melakukan manajemen zakat.

Bahkan ketika para sahabat telah tiada. Manajamen zakat semakin membaik. Sehingga, sejarah kegemilangan zakat pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Bani Umayyah pun dapat terdengar sampai sekarang. Bagaimana tidak? Di masa pemerintahannya selama 30 bulan, tidak ditemukan lagi masyarakat miskin yang berhak menerima zakat, karena semua muzakki mengeluarkan zakat, dan distribusi zakat tidak sebatas konsumtif, melainkan juga produktif.

Prinsip zakat yang diajarkan Rasulullah SAW adalah mengajarkan berbagi dan kepedulian, oleh sebab itu zakat harus mampu menumbuhkan rasa empati serta saling mendukung terhadap sesama muslim. Dengan kata lain, zakat harus mampu mengubah kehidupan masyarakat, khususnya umat muslim.

Dengan potensi zakat mencapai 252 T tersebut, bisa digunakan bermacam-macam. Bisa untuk bantuan pendidika yatim dhuafa, fakir miskin.

Sebagian besar ulama kontemporer membolehkan pemberian beasiswa dari dana zakat. Akan tetapi harus memenuhi beberapa syarat dan ketentuannya.

  1. Sebagian ulama mensyaratkan bidang ilmu yang dipelajari adalah ilmu sya’i. Ulama kontemporer, seperti syaikh Yusuf Al-Qardhawi dan fatwa ulama Saudi Arabia sepakat atas hal ini. Para ulama memasukkan orang-orang yang memperdalam ilmu keislaman dalam kategori fii sabilillah, dengan begitu mereka bisa mendapatkan beasiswa dari dana zakat.
  2. Diperbolehkan memberikan beasiswa dari dana zakat bagi anak-anak tidak mampu atau orang miskin untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Kebutuhan pendidikan merupakan kebutuhan dasar manusia. Syaikh Yusuf Al-Qardhawi mensyaratkan bahwa anak orang miskin tersebut memiliki potensi. Beasiswa ini bisa diambilkan dari dana zakat untuk bagian fakir miskin atau fii sabilillah.
  3. Diperbolehkan memberikan beasiswa bagi orang-orang yang menuntut ilmu –ilmu yang dibutuhkan dalam kehidupan, seperti: ekonomi, teknologi dan sejenisnya. Akan tetapi, orang yang mendapatkan beasiswa itu adalah orang yang dikaderkan oleh umat Islam. Misalnya, seseorang yang dikaderkan oleh lembaga dakwah atau institusi yang memperjuangkan kehidupan umat Islam. Mereka bisa mendapatkan beasiswa dari saham fii sabilillah

Tidak hanya itu saja, zakat bisa menekan pengangguran. Caranya bukan diberikan modal kerja tetapi dengan modal keterampilan yang cukup, tentu pengangguran tersebut tidak hanya mendapatkan pekerjaan. Namun dapat membuat lapangan pekerjaan. Semua bukan tak mungkin terjadi, jika kita bersama-sama mengumpulkan kebaikan untuk keberdayaan sesama, untuk perkembangan bangsa.

Zakat dapat pula membantu para pengangguran, tidak hanya dari segi materi, juga non-materi yang berguna untuk memandirikan dirinya.

Ada banyak program pelatihan yang ditawarkan pun berbagai macam, mulai dari pelatihan ulat maggot, ketrampilan otomatif, elektronik, fashion dan design, kewirausahaan dan wiraniaga. Selain itu, salon kecantikan muslim, keterampilan Informasi dan Teknologi, memasak, mengemudi, dan instalasi listrik.

Ukhuwah Care Indonesia mengajak masyarakat untuk memaksimalkan potensi zakat ini dengan membayar lewat Ucare Pay atau menyalurkan ke rekening, yaitu:

BSM 7100 3000 14
Mandiri 167 000 2432 085
BNI Syariah 068 566 4701
BCA 066 327 1960
BRI 1623 01 000 032 307
A.n yayasan ukhuwah care indonesia
Telp. (021) 8896 0316
Hotline. 0811 9236 811
Email. [email protected]
www.https://www.ucareindonesia.org

More
articles