
Kisah Zubair bin Awwam selalu menjadi teladan bagi umat Islam tentang bagaimana kekayaan seharusnya dipandang sebagai amanah, bukan tujuan hidup. Zubair adalah sepupu Nabi Muhammad SAW dari jalur ibunya, Shafiyah binti Abdul Muthalib, sekaligus salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga (Al-Asyarah Al-Mubasysyarah).
Ia memeluk Islam sejak usia belasan tahun melalui ajakan Abu Bakar Ash-Shiddiq, menjadikannya salah satu orang pertama yang beriman kepada risalah Rasulullah SAW.
Sahabat Setia dan Pejuang Pemberani


Kisah Zubair bin Awwam tentang kesetiannya kepada Rasulullah SAW begitu istimewa sehingga beliau pernah bersabda, “Setiap nabi punya pengikut setia, dan pengikut setiaku adalah Az-Zubair bin Al-Awwam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Zubair turut serta dalam berbagai peperangan penting, termasuk Perang Badar, di mana ia tampil sebagai salah satu pasukan berkuda pemberani meski jumlah kaum muslimin jauh lebih sedikit dibanding kaum musyrikin.
Baca Juga: Kisah Abu Bakar As Shiddiq: Khalifah yang Zuhud dan Dermawan
Saudagar Kaya yang Dermawan


Selain dikenal sebagai pejuang, Zubair juga sukses sebagai pengusaha. Kekayaannya bersumber dari perniagaan yang ia rintis sejak awal, hingga memiliki aset berupa 11 rumah besar di Madinah, dua rumah di Basrah, serta masing-masing satu rumah di Kufah dan Mesir.
Meski begitu, kekayaan tersebut tidak pernah membuatnya sombong. Salah seorang sahabat, Ka’ab, menyebutkan kisah Zubair bin Awwam memiliki seribu macam bentuk kekayaan yang seluruhnya ia pergunakan untuk berdakwah, sampai-sampai tidak ada satu dirham pun yang tersisa dan masuk ke rumahnya.
Baca Juga: Kisah Abdurrahman bin Auf, Sahabat Rasulullah SAW yang Kaya dan Dermawan
Menyedekahkan Harta di Jalan Allah


Kisah Zubair bin Awwam yang paling mengharukan adalah bagaimana ia terus menyedekahkan hartanya di jalan Allah tanpa rasa khawatir menjadi miskin. Mengutip Buku “Road to Jannah” karya Robi Afrizan Saputra, Zubair meyakini bahwa Allah akan senantiasa menjaga rezekinya selama harta itu digunakan untuk kebaikan. Bahkan menjelang wafatnya pada tahun 36 H, Zubair tidak meninggalkan satu dinar maupun dirham untuk keluarganya, kecuali sebidang tanah yang kemudian dijual anaknya, Abdullah bin Zubair, untuk melunasi utang-utang sang ayah demi dakwah Islam.
Meski hartanya melimpah, Zubair tetap hidup sederhana dan tidak segan turun tangan sendiri dalam berbagai urusan, mencerminkan bahwa kekayaan tidak pernah mengubah kerendahan hatinya. Ia juga dikenal sebagai sosok bijaksana, terlihat dari sikapnya menjelang Perang Jamal.
Awalnya Zubair mendukung Aisyah, namun setelah berdialog dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib, ia memilih menarik diri dari pertempuran demi menjaga persatuan umat Islam, meski akhirnya ia tetap wafat terbunuh dalam perjalanan pulang.
Baca Juga: Kisah Utsman bin Affan, Sahabat Rasulullah SAW yang Dermawan


Dari kisah Zubair bin Awwam, umat Islam dapat belajar bahwa kekayaan bukan penghalang untuk dekat kepada Allah, selama harta tersebut dikelola dengan kejujuran dan disalurkan untuk kemaslahatan umat.
Keteladanannya dalam berdagang secara halal, berjuang dengan berani, dan bersedekah tanpa batas menjadikannya sosok yang layak dijadikan cermin bagi generasi muslim masa kini dalam memandang harta sebagai sarana ibadah, bukan sekadar tujuan hidup semata.

