Mengenang Kisah Yatim Nabi Muhammad SAW

Date

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Siapa yang tidak mengenal Rasulullah SAW? Meskipun kita tidak hidup di zaman beliau, namun kisah-kisah, keteladanan, dan perjuangan beliau terasa begitu lekat mengiringi para umatnya hingga saat ini.

Baginda Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling agung lagi mulia di atas muka bumi. Beliau paling berjasa untuk sejarah keislaman kita sampai akhirnya dapat kita cicipi nikmatnya mendapat pengetahuan serta tuntunan untuk mendapatkan hidayah iman dan islam dari Allah Azza Wa Jalla. Darinya, banyak hal yang bisa kita teladani, baik dari perkataan, perbuatan, akhlak, hingga sunnah-sunnah darinya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ.

“Kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang akhlaknya paling baik di antara mereka, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada isteri-isterinya.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1082)

Banyak hal yang bisa seluruh umat islam pelajari tentang larangan dan perintah, juga hal-hal yang harus diperhatikan dalam agama. Melalui Rasulullah SAW, kita banyak belajar, meneladani, dan mengambil hikmah-hikmah yang dapat diteguk oleh iman. Sehingga menguatkan dan bisa meneruskan perjuangan Rasulullah SAW dalam berdakwah.

Bicara tentang Rasulullah, tentu sahabat masih ingat bahwa Rasulullah sudah menjadi yatim sejak kecil?

Pada saat ayah Rasulullah wafat, beliau masih berada di kandungan sang ibu yaitu ibunda Aminah binti Wahb az-Zuhriyah al-Qurosyiah. Setelah lahir, kakeknya Abdul Muttolib memberinya nama Muhammad. Kemudian, Halimah Sa’diyah membawanya ke perkampungan Bani Sa’ad dan beliaupun menyusuinya. Ibunda Rasulullah meninggal dunia, sebelum beliau genap berumur enam tahun.

Setelah kedua orang tuanya tiada, kakek Rasulullah yang bernama Abdul Muttolib kemudian mengasuh Rasul dan menjaganya hingga usia delapan tahun. Di saat itulah, kakeknya pun wafat. Pengasuhan Rasul tidak berhenti, kemudian berganti diasuh oleh pamanya Abu Tholib untuk merawat Rasulullah kala itu.

Tersebab, anak sang paman yang banyak ditambah lagi sang paman tidak memiliki harta melimpah, maka Nabi Muhammad SAW turut serta menggembala kambing bersama pamannya untuk membantu beliau.

Bukan perjalanan yang mudah, namun Rasulullah sebagai kekasih Allah telah memiliki akhlak yang sempurna diberikan banyak kekuatan untuk menjalani kehidupannya. Siapa yang mau menjadi yatim sejak kecil? Tentu tidak ada. Namun karena taqdir, Rasulullah pun harus tabah menerimanya.

Melalui kisah yatimnya Rasulullah, membuka mata hati kita bahwa anak-anak yatim adalah orang-orang yang lemah. Mereka perlu dikasihi, diperhatikan, disantuni, dan diurusi keperluannya. Membahagiakan mereka tentu menjadi ladang pahala dan mulia di sisi Allah. yuk, bahagiakan anak-anak yatim di sekeliling kita. Semoga dengannya menjadi pembuka keselamatan dunia dan akhirat untuk sahabat semua. Aamiin

Ingin berdonasi untuk program yatim? Klik di sini

More
articles