
Selain kerusakan fisik, gempa NTT (Nusa Tenggara Timur) juga menyisakan tantangan kesehatan yang tidak kalah berat bagi para penyintasnya. Kementerian Kesehatan RI mencatat sejumlah penyakit yang banyak dikeluhkan masyarakat setelah gempa bumi mengguncang wilayah Kepulauan Flores, Nusa Tenggara Timur–dengan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang persentasenya paling tinggi .
ISPA Jadi Keluhan Kesehatan Terbanyak


Laporan DetikHealth menyebutkan, berdasarkan data Kemenkes RI periode 15-25 Agustus 2026, infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA tercatat sebagai gangguan kesehatan yang paling banyak dilaporkan, dengan hampir 9.700 kasus yang tersebar di tujuh kabupaten terdampak, yakni Manggarai, Sikka, Nagekeo, Manggarai Barat, Ende, Ngada, dan Manggarai Timur.
Tingginya angka ISPA ini tidak lepas dari kondisi pascabencana, di mana banyak warga terpaksa tinggal di pengungsian dengan sirkulasi udara yang kurang memadai, debu reruntuhan bangunan, serta cuaca yang berubah-ubah. Kondisi semacam ini membuat daya tahan tubuh menurun dan memudahkan penyebaran infeksi saluran pernapasan di antara pengungsi.
Baca Juga: Bantuan Gempa NTT untuk Warga Wuring Alok Barat: Harapan untuk Bertahan
Deretan Penyakit Lain yang Ikut Meningkat


Selain ISPA, sejumlah penyakit lain turut mewarnai kondisi kesehatan para pengungsi selama masa tanggap darurat pascagempa NTT. Hipertensi menempati posisi kedua dengan jumlah kasus yang cukup signifikan, diikuti oleh nyeri otot atau myalgia, trauma fisik akibat reruntuhan, serta gangguan pencernaan seperti diare dan gastritis.
Tidak hanya itu, kasus dispepsia, diabetes, penyakit kulit, hingga nyeri punggung bagian bawah juga turut dilaporkan meningkat pada periode yang sama. Kondisi ini menggambarkan bahwa dampak bencana alam tidak hanya berupa kerusakan bangunan, tetapi juga memicu berbagai keluhan kesehatan baru maupun kambuhnya penyakit yang sebelumnya sudah diderita warga, terutama penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes yang membutuhkan pengobatan rutin.
Yang tidak kalah mengkhawatirkan, ditemukan pula puluhan kasus gigitan hewan penular rabies di beberapa kabupaten terdampak. Untungnya, para korban gigitan sudah mendapatkan penanganan vaksinasi sehingga risiko penularan dapat dicegah lebih dini.
Baca Juga: Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa NTT di Sikka
Pentingnya Uluran Tangan bagi Para Penyintas


Melihat kondisi ini, pemulihan pascagempa NTT jelas membutuhkan bantuan yang lebih dari sekadar tempat tinggal sementara. Layanan kesehatan, obat-obatan, air bersih, hingga kebutuhan sanitasi menjadi hal mendesak yang harus terus dipenuhi agar penyebaran penyakit tidak semakin meluas di lokasi pengungsian.
UCare Indonesia pun telah bergerak menyalurkan bantuan yang dititipkan para insan dermawan kepada warga terdampak gempa NTT di sejumlah wilayah, di antaranya Kesokoja, Pulau Palue; Wuring, Alok Barat, Kabupaten Sikka; serta Waipare dan Kilo Dua. Bantuan yang disalurkan berupa dapur umum, bahan pokok, dan kebutuhan logistik untuk membantu memenuhi kebutuhan saudara-saudara kita yang terdampak.
Meski begitu, mereka masih membutuhkan dukungan kita untuk bangkit kembali. Setiap uluran tangan, sekecil apa pun, dapat membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang tengah berjuang memulihkan diri. Yuk, salurkan donasi terbaikmu untuk mendukung penanganan kesehatan dan kebutuhan dasar para penyintas di sini






