4 Keutamaan Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar
Balasan Bagi Mukmin yang Melepaskan Kesempitan Saudaranya

Date

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Daftar Isi

Amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah bagian dari perbuatan mulia yang dianjurkan  untuk dikerjakan oleh setiap muslim. Karena maslahatnya kembali untuk kebaikan hidup seluruh umat.

Abu Sa’id Al-Khudri ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah pasti akan bertanya kepada seorang hamba pada hari kiamat, ‘Apa yang menghalangimu untuk bertindak Ketika engkau melihat kemungkaran?’ Apabila Allah telah menerima alasan dari hamba tersebut, dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, sungguh aku mengharapkanMu. Tetapi aku memisahkan diri dari orang lain karena takut kepada mereka.” (HR. Ibn Majah, Ibn Hibban, dan Ahmad)

Penjelasan Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar

AMAR MA’RUF DAN NAHI MUNGKAR 2 (1)

Amar ma’ruf adalah kita memerintahkan orang lain untuk bertauhid kepada Allah, menaatiNya, bertaqarrub padaNya dan berbuat kepada sesame manusia sesuai dengan yang diajarkan dalam islam.

Sedangkan nahi mungkar adalah Ketika kita melarang orang lain untuk berbuat maksiat dan segala perbuatan yang diharamkan dan dibenci Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Perintah Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar dalam Surah Ali Imran

AMAR MA’RUF DAN NAHI MUNGKAR 2 (1)

Orang-orang yang mengerjakan amar ma’ruf dan nahi mungkar akan menjadi orang-orang yang meraih kemenangan. Firman Allah dalam Al-Quran, artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Perbuatan amar ma’ruf nahi mungkar merupakan perbuatan yang sangat mulia dalam ajaran islam. Ini merupakan bagian dari perintah yang diberikan Allah SWT agar dibawa para Nabi dan Rasul. Kalaulah perintah ini tidak dijalankan, maka kesesatan akan merajalela, kemaksiatan akan banyak dilakukan, kebodohan akan tumbuh subur, kerusakan dimana-mana hingga seluruh manusia menjadi binasa. Namun kehancuran yang sebenarnya tak akan terasa, kecuali pada hari kiamat.

Baca juga: Amar Makruf Nahi Mungkar yang Diperintahkan Allah SWT

Keutamaan Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar dalam Al-Quran

AMAR MA’RUF DAN NAHI MUNGKAR 2 (1)

Berikut beberapa keutamaan bagi mereka yang menjalankan amar ma’ruf dan nahi mungkar, yaitu:

  1. Termasuk golongan orang-orang sholeh.

Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ali Imran: 114)

 

  1. Menjadi bagian dari orang-orang mukmin.

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)

 

  1. Kebaikan akan diberikan kepada siapa saja yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran: 110)

 

  1. Akan mendapatkan keselamatan bila kita mencegah perbuatan buruk

Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (QS. Al-A’raf: 165)

 

Hudzaifah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Demi yang diriku berada dalam kekuasaanNya, hendaklah kalian melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, atau Allah hampir saja mengirimkan siksa kepada kalian, lalu kalian berdoa, tetapi Dia tidak mengabulkannya.” (HR. Tirmidzi)

Referensi: ‘Iwadh, Ahmad ‘Abduh, 2008, Mutiara Hadis Qudsi  Jalan Menuju Kemuliaan dan Kesucian Hati, Bandung: PT Mizan Pustaka

More
articles