7 Penyakit Akibat Kabut Asap Karhutla, dari ISPA hingga Gangguan Jantung
Penyakit Akibat Kabut Asap

Date

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Daftar Isi

Penyakit Akibat Kabut Asap

Penyakit akibat kabut asap karhutla menjadi kekhawatiran nyata bagi masyarakat setiap musim kemarau, terutama di wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan seperti Kalimantan. Sepanjang Agustus 2026, karhutla kembali meluas di Kalimantan Barat, Tengah, dan Selatan, menyelimuti kota-kota seperti Banjarbaru, Palangka Raya, dan Pontianak dengan kabut asap pekat. Di Palangka Raya saja, ribuan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dilaporkan dalam sepekan akibat memburuknya kualitas udara.

Kementerian Kesehatan RI turut mencatat lonjakan kasus ISPA secara nasional pada periode kemarau ini, dengan angka mingguan yang sempat menembus ratusan ribu kasus. Partikel halus dalam kabut asap dapat menyusup ke saluran pernapasan dan memicu berbagai gangguan kesehatan, baik pada orang sehat maupun yang sudah memiliki riwayat penyakit.

Mengapa Kabut Asap Berbahaya bagi Kesehatan?

Penyakit Akibat Kabut Asap

Sebelum mengetahui apa saja penyakit akibat kabut asap, penting untuk terlebih dahulu memahami mengapa kabut asap berbahay untuk kesehatan. Asap karhutla mengandung partikel polutan sangat halus (PM2,5) yang mampu menembus jauh ke saluran pernapasan hingga paru-paru tanpa tersaring oleh bulu hidung. Menurut penjelasan Kementerian Kesehatan RI, kabut asap dapat mengganggu kesehatan siapa pun, dengan tingkat bahaya yang bergantung pada durasi paparan dan kondisi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di suatu wilayah. Semakin tinggi ISPU dan semakin lama paparan, semakin besar pula risikonya.

Baca Juga: Dampak Buruk Kebakaran Hutan bagi Kesehatan yang Perlu Diwaspadai

Daftar Penyakit Akibat Kabut Asap Karhutla

Penyakit akibat kabut asap

Berikut ini beberapa penyakit akibat kabut asap karhutla yang paling umum muncul di masyarakat:

  1. ISPA — infeksi saluran pernapasan akibat menurunnya daya tahan paru saat terus-menerus terpapar asap.
  2. Asma dan bronkitis kronik yang memburuk — zat iritan dalam asap memicu peradangan saluran napas dan sesak yang lebih berat.
  3. Iritasi mata dan kulit — mata perih, berair, kemerahan, hingga kulit gatal dan kering.
  4. Iritasi hidung, mulut, dan tenggorokan — rasa gatal dan kering yang bisa berkembang menjadi peradangan ringan.
  5. Pneumonia — risiko infeksi paru yang lebih serius, terutama pada bayi, balita, dan lansia.
  6. Gangguan jantung — kualitas udara buruk memperberat kerja jantung dan gejala penyakit kardiovaskular.
  7. Gangguan saluran cerna — seperti diare, jika makanan atau air minum sempat terkontaminasi polutan.

Baca Juga: Kebakaran Hutan di Kalimantan Lumpuhkan Aktivitas Warga

Kelompok yang Paling Berisiko

Bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta orang dengan riwayat asma, penyakit paru, atau jantung adalah kelompok yang paling rentan terserang penyakit akibat kabut asap karhutla. Pada kelompok ini, paparan asap singkat pun bisa memicu gejala yang lebih cepat memburuk dibanding orang dewasa sehat, sehingga perlindungan ekstra sangat penting selama musim kabut asap.

Langkah Sederhana Melindungi Diri dan Keluarga

penyakit akibat kabut asap

Beberapa langkah sederhana dapat mengurangi risiko, seperti membatasi aktivitas di luar ruangan, memakai masker penyaring partikel halus seperti N95, memperbanyak minum air putih, serta menutup pintu dan jendela agar asap tidak masuk rumah. Jika muncul batuk berkepanjangan, sesak napas, atau iritasi mata yang parah, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

Kepedulian terhadap warga terdampak kabut asap karhutla juga bisa diwujudkan lewat dukungan bersama, misalnya membantu penyediaan masker atau bantuan medis melalui lembaga kemanusiaan yang berpengalaman menyalurkan bantuan kebencanaan.

More
articles

Scroll to Top