Inspirasi dari Nabi Ibrahim - Ucare Indonesia

Inspirasi dari Nabi Ibrahim

Gen Saladin featuring @lazucare

 

“Celakalah kita wahai manusia. Sudah datang pada kita ribuan Nabi dan orang-orang shalih. Sudah diturunkan untuk kita ribuan ayat dan peringatan. Tapi kita masih saja menahan diri dari pusarannya, malah melulu mengangguk pada syahwatnya.”
—Syaikh Ali Ath Thantawi

 

Bayangkan, 4000 tahun bukanlah waktu yang sedikit. Jarak kita dengan Nabi Ibrahim terlalu jauh. Sudah berapa negeri berdiri dan runtuh. Sudah berapa umat yang lahir lalu hancur. Sudah berapa raja-raja yang mati-matian mengabadikan namanya dalam prasasti namun ternyata yang kita ingat sekarang bukanlah mereka semua.

 

Yang kita ingat justru adalah manusia-manusia yang Allah-lah tujuan utama hidupya. Bahkan Allah jadikan kisah Ibrahim, Ismail dan Ibunda Hajar sebagai hari raya yang Allah perintahkan kita untuk bahagia menjalaninya.

 

Mari kita coba bertanya; Mengapa Nabi Ibrahim demikian abadi namanya sepanjang sejarah umat manusia? Apa yang menyebabkan beliau mendapatkan keberkahan yang tumpah ruah sehingga digelari sebagai Bapak Para Nabi dan Khalilurrahman?

 

Di antara banyak jawabannya, salah satunya adalah; orientasinya yang Robbani. Semua yang beliau lakukan, tolok ukurannya bukan pada nominal apalagi penghasilan, bukan tentang dirinya sendiri dan bukan tentang cara menguntungkan pribadinya.

 

Sejak mula, semua umurnya total untuk Allah. Semuanya diukur dengan apakah manusia mengenal Allah atau tidak, apakah dakwah meluas atau tidak. Meminjam kata seorang tokoh pendahulu kita, Prawoto Mangkusasmito. “untung rugi hidup kita hendaknya diukur dengan untung ruginya Islam.”

Sebuah untaian syair mengabarkan pada kita mengapa Baginda Ibrahim begitu harum namanya dalam kenangan sejarah, wangit betul jasanya diabadikan oleh Al Qur’an.

Malu pada Bapak Para Anbiya
Patuh dan taat pada Allah semata
Tanpa pernah mengumbar kata-kata
Jalankan perintah tiada banyak bicara

Kuncinya ada pada ketaatan. Dengan taat pada Allah, maka Allah sendiri-lah yang menjamin hidup kita. Sesederhana itu, namun tidak semua manusia mampu melaksanakannya. Betapa banyak masalah-masalah bangsa ini yang begitu rumit untuk diurai, tapi kita malah angkuh menjauh dari Allah. Padahal dalam saat-saat menghimpit seperti ini, justru inilah saatnya memupuk taat pada-Nya.

 

Di saat bumi menyempitkan ruangnya untukmu, hadapkan harapanmu ke langit. “Hunaaka sa’adatun mukhtabi’ah tantadzir istighfaraka litadzhar” sebenarnya ada kebahagiaan yang bersembunyi, menunggu istighfar kita agar dia menampakkan diri.

Ciri khas kedua yang diajarkan oleh Baginda Ibrahim, Ismail dan Ibunda Hajar adalah; hidupnya untuk memberi manfaat, bukan untuk mendulang pemberian. Kita menamakannya dengan bahasa yang lebih sederhana dengan nama: berkorban.

 

Bekerja itu seperti menanam pohon, dan berkorban adalah pupuk yang mempercepat pertumbuhannya. Kita mengenang Nabi Ibrahim hari ini karena ia bekerja menabur kebajikan di ladang hati manusia. Tanpa henti. Kita mengenang Nabi Ibrahim hari ini karena pengorbanannya yang tidak terbatas.

Jika bekerja adalah simbol keberdayaan dan kekuatan, maka pengorbanan adalah simbol cinta dan kejujuran. Itu nilai yang menjelaskan mengapa bangsa-bangsa bisa bangkit dan para pemimpin bisa memimpin.

Hanya mereka yang memimpin dengan gairah berkorban penuh cinta yang dapat mengantarkan rakyatnya menuju kebaikan. Dan ternyata, begitulah perintah Allah untuk kita; tetap beramal, tetap beraksi, jangan diam di tempat dan jangan sampai tertinggal.

Scroll Up