Kisah Perjalanan Lebaran Anak Yatim

Date

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Tradisi lebaran anak yatim yang cukup dikenal masyarakat dirayakan pada tanggal 10 Muharram. Dalam tradisi ini, tak sedikit yang mengerjakan, namun ada juga yang menolak karena dirasa cukup bertentangan.

Dalam bukunya “Sejarah Kalender Hijriyah” Ahmad Zarkasih Lc menyatakan “Kalau Indonesia memang ramai budaya seperti ini, hampir setiap masjid serta majlis taklim mengadakan perayaan tahun baru Islam, disertai di dalamnya santunan anak yatim karena memang bulan Muharram, tepatnya tanggal 10 adalah lebarannya anak yatim.”

Beliau pun mengatakan, banyak hadits-hadits yang dikenal oleh orang kebanyakan perihal fadhilah menyantuni anak yatim di tanggal 10 Muharram sehingga melahirkan tradisi di tengah masyarakat. Karena banyaknya yang menyantuni di tanggal tersebut, seakan dikenal sebagai bulannya menyantuni anak yatim. 

“Sehingga banyak orang menyebutnya lebaran mengingat makna lebaran adalah hari bersenang-senang. Begitu juga di tanggal ini, anak yatim sedang senang-senangnya karena banyak yang sayang,” ujar beliau.

Ahmad Zarkasih mengatakan, di antara hadits-hadist tersebut ialah:  “Siapa orang yang mengusap kepala anak yatim (menyantuni/menyayangi) pada hari Asyura (10 Muharram), maka Allah akan angkat derajatnya sebanyak rambut anak yatim tersebut yang terusap oleh tangannya” (Hadits ke 212 dari kitab Tanbih al-Ghafilin). 

Meski hadits tersebut membahas tentang keutamaan menyantuni anak yatim di tanggal 10 Muharram, namun kedudukan haditsnya adalah dhaif atau lemah atau tidak shahih. Sehingga ada juga yang tidak menyetujui untuk melaksanakannya.  Bagi mereka yang tidak setuju lantaran menyantuni anak yatim itu tidak boleh hanya di waktu tertentu saja, akan tetapi itu adalah pekerjaan mulia yang harus terus dilakukan tanpa mengenal waktu.

Dalam hal ini, jumhur ulama membolehkan  mengamalkan hadits dhaif dengan beberapa syarat tentunya. Imam Nawawi menyebutkan dalam kitabnya Azkar (hal. 8). Para ulama dari  kalangan ahli hadits dan ahli fiqih ada yang mengatakan.

“Boleh dan disukai mengamalkan hadits dhaif dalam perkara fadhail a’mal, targhib (memotivasi) serta tarhiib (memberikan peringatan) selama haditsnya tidak maudhu (palsu),” tuturnya.

Maka boleh saja untuk memotivasi untuk meningkatkan amal sholeh dan dapat diambil pelajaran serta peringatan bagi kita. Apalagi menyantuni anak yatim adalah amal ibadah yang sangat dianjurkan, bahkan dalam hadist juga dikatakan bagi mereka yang menyantuni anak yatim maka akan bersisian dengan Rasulullah SAW di surga, diberikan peringkat abror, dan mendapatkan banyak keberkahan.

Ingin ikut menyantuni anak yatim dalam program Semarak Yatim Bahagia? Klik di sini. Bersama UCare Indonesia, sahabat dapat terus menyantuni anak yatim tanpa terbatas ruang dan waktu. Yuk, dukung terus program kebaikan di UCare Indonesia!

More
articles