Pantang Berputus Asa dari Rahmat Allah di Tengah Pandemi

Date

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Tidak terasa, kini umat islam masuk ke bulan Muharram, tepatnya pada tanggal 3 Muharram 1443 Hijriah. Beberapa tahun lalu, biasanya jalan dipenuhi dengan keceriaan anak-anak dalam mengiringi pawai gebyar tahun baru islam. Kini, sudah dua tahun terakhir keadaannya cukup berbeda setelah pandemi datang. Memang banyak hal yang berubah, tak bisa dipungkiri hal-hal yang dulu sering dilakukan, kini beberapa harus ditunda atau bahkan ditiadakan sementara.

Di tengah pandemi yang seakan begitu mencekam, kondisi ekonomi yang sedang diambang ketidak pastian, serta dampaknya terhadap berbagai sektor kerap kali membuat kita mungkin merasa ini semua sangatlah berat hingga bingung harus bagaimana menyikapinya. Pada kenyataannya, ujian-ujian hidup bukan hanya umat ini yang merasakan. Namun juga para Nabi dan Rasul pada zaman dahulu, turut melewati ujian-ujian hidup yang tak mudah.

Seperti kisah Nabi Ibrahim as yang hidup di tengah-tengah kaum yang musyrik, belum lagi ayahnya yang bernama Azaar adalah seorang pembuat berhala, kemudian beliau juga harus menghadapi Raja Namrud yang keji dan ingin membakarnya hidup-hidup karena amarah atas patung-patungnya yang dihancurkan. Belum lagi ketika sudah dewasa ia harus menerima dengan penuh kerelaan dan ketabahan dalam menjalani perintah Allah SWT untuk menyembelih anak tersayangnya, Ismail as. Dan nyatanya ujian-ujian tersebut justru membuat derajat Nabi Ibrahim as istimewa di sisi Allah SWT.

Tak hanya Nabi Ibrahim as, ada juga kisah Nabi Ayyub yang harus diuji karena penyakit kusta atau lepra yang dideritanya selama kurang lebih 18 tahun. Dalam perjalanan yang penuh ujian tersebut, ia harus kehilangan anak. Bahkan sampai istrinya yang semula sabar, kemudian memperkejakan orang lain agar bisa mengurus Nabi Ayyub. Bahkan, kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an, yang artinya:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

Artinya: “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang“. (QS. Al-Anbiya: 83)

Namun atas kesabarannya, Allah Ta’ala anugerahkan air yang dapat dipakai untuk minum dan mandi Nabi Ayyub, kemudian atas izin Allah, beliau pun dapat kembali sembuh dari segala penyakitnya.

Masih banyak lagi Nabi-nabi yang diuji oleh Allah, seperti Nabi Musa as, Nabi Nuh as, Nabi Ismail as, Nabi Yusuf dan lainnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

لَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْكَٰفِرُونَ

Artinya: “…Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

Sebagaimana Para Nabi dan Rasul yang menghadapi ujian dengan ketabahan, kesabaran, dan senantiasa memohon pertolongan Allah. Seperti itu jugalah yang baiknya kita lakukan sebagai umat islam. Dalam menghadapi pandemi ini, kita berharap agar Allah senantiasa memberikan kita kemudahan dan pertolongan di situasi apapun. Kita juga harus memiliki keyakinan yang besar bahwa Allah SWT pasti akan memberikan rahmat dan pertolonganNya kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Sekalipun masih nuansa pandemi, mari sambut tahun baru islam ini dengan semangat optimisme dan keyakinan akan pertolonganNya. Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang bersyukur dan bersabar.

Bagi sahabat Darmacare yang ingin tetap berbagi untuk anak-anak yatim di tengah pandemi, silahkan klik di sini: s.id/SemarakYatimBahagia

s.id/SemarakYatimBahagia

s.id/SemarakYatimBahagia

More
articles