Banyak di antara umat muslim yang masih ragu tentang bolehkah puasa Syawal digabung qadha Ramadan?
Memang setelah Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Puasa ini memiliki keutamaan besar, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadan seolah-olah berpuasa sepanjang tahun.
Keutamaan Puasa 6 Hari di Bulan Syawal

Dari sahabat Abu Ayyub Al Anshoriy, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)
Di sisi lain, bagi mereka yang memiliki hutang puasa Ramadan, diwajibkan untuk mengqadha atau mengganti puasa tersebut. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan: apakah diperbolehkan menggabungkan niat puasa Syawal dengan qadha Ramadan?
Pendapat Ulama Mengenai Puasa Syawal Digabung Qadha Ramadan

Mengutip laman MUI, Imam al-Syarqawi (w 1227 H) dalam karyanya Hasyiyah al-Syarqawi berpendapat:
ولو صام فيه [أي في شهر شوال] قضاء عن رمضان أو غيره نذراً أو نفلاً آخر، حصل له ثواب تطوعها؛ إذ المدار على وجود الصوم في ستة أيام من شوال…، لكن لا يحصل له الثواب الكامل المترتب على المطلوب إلا بنية صومها عن خصوص الست من شوال…
“Bila seseorang berpuasa pada Syawal dengan niat qadha, atau selainnya seperti nadzar atau puasa sunnah lain, orang tersebut tetap mendapatkan pahala puasa sunnah Syawal. Sebab substansi puasa enam hari di bulan Syawal telah dilaksanakan. Tetapi, dia tidak mendapatkan pahalanya dengan sempurna sesuai kriteria yang dituntut (oleh hadits). Bila ingin mendapat pahala puasa Syawal dengan sempurna, harus dilaksanakan dengan niat khusus puasa enam hari Syawal (tidak digabung dengan yang lain)…” (Lihat Hasyiyah al-Syarqawi, juz 1, hlm 474)
Senada dengan pendapat tersebut, al-Ramli (w 1004 H) dalam kitabnya Nihayatul Muhtaj berpendapat bahwa seseorang melaksanakan puasa qadha pada Syawal, dia tetap mendapatkan pahala sunnah Syawal tetapi tidak mendapatkan pahala yang sempurna.
Ini, menurut al-Ramli adalah pendapat yang difatwakan oleh ulama sebelumnya yaitu al-Walid yang mengikuti pendapat al-Barizy, al-Ashfuni, al-Nasyiry, dan al-Faqih ‘Ali bin Shalih al-Hadlrami dan lain sebagainya. (Lihat Nihayatul Muhtaj, juz 3, hlm 208)
Rekomendasi Pelaksanaan Puasa Syawal
Mengingat adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait puasa Syawal digabung qadha Ramadan, disarankan bagi umat Islam untuk melaksanakan puasa qadha Ramadan terlebih dahulu sebelum menjalankan puasa sunnah Syawal. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa kewajiban telah ditunaikan sebelum melaksanakan amalan sunnah, serta untuk meraih keutamaan penuh dari masing-masing ibadah.
Masih punya utang puasa dan ingin bayar fidyah? Cek di sini!
Bacaan Niat Puasa Qadha Ramadan dan Puasa Syawal

Untuk memudahkan, berikut adalah bacaan niat untuk masing-masing puasa:
Niat Puasa Qadha Ramadan
“Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i fardhi syahri Ramadhana lillahi ta’ala.”
Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadan esok hari karena Allah Ta’ala.”
Niat Puasa Syawal
“Nawaitu shauma ghadin ‘an sittin min Syawwalin sunnatan lillahi ta’ala.”
Artinya: “Aku berniat puasa esok hari dari enam hari di bulan Syawal, sunnah karena Allah Ta’ala.”
Baca juga: Keistimewaan Puasa Syawal: Dalil dan Hikmahnya
Menggabungkan niat puasa Syawal dengan qadha Ramadan merupakan isu yang memiliki perbedaan pendapat di kalangan ulama. Untuk meraih keutamaan yang maksimal dan menghindari keraguan, sebaiknya mendahulukan kewajiban qadha puasa Ramadan terlebih dahulu, baru dilanjut dengan sunnah puasa enam hari di bulan Syawal.
Wallahu A’lam.


